Rabu, 23 Januari 2008

BERCERMIN DARI KLAIM NEGRI JIRAN

 BERKACA DARI KLAIM MALAYSIA

Polemik tentang pengklaiman yang dilakukan oleh Malaysia beberapa waktu lalu masih belum menemukan titik terang. Lagu Rasa Sayange yang dipakai Malaysia dalam promosi wisatanya mengundang amarah orang-orang Indonesia karena lagu Rasa Sayange adalah lagu daerah Maluku. Selain lagu Rasa Sayange, Malaysia juga mengklaim kain batik, angklung, rendang, reog, congklak, dan beberapa kebudayaan Indonesia sebagai kebudayaan asli Malaysia. Hal ini belum ditambah persoalan lama tentang kepulauan Sipadan dan Ligitan yang sudah menjadi milik Malaysia serta kasus blok Ambalat.
Pengklaiman tersebut kontan memicu amarah bangsa Indonesia, karena menganggap Malaysia tidak pernah meminta ijin kepada Indonesia tentang penggunaan lagu tersebut dan juga sakit hati masalah lama. Media di Indonesia sangat gencar memberitakan pengklaiman ini, sehingga muncul sebuah gagasan untuk “Mengganyang Malaysia” seperti jaman Presiden Soekarno. Namun gagasan ini tak sepenuhnya disetujui pemerintah karena permasalahan ini harus diselesaikan dengan cara yang dingin.
Orang Indonesia yang tidak puas akan kondisi ini lantas menyerang berbagai situs Malaysia dengan virus, salah satu situs yang diserang adalah www.rasasayang.com.my. Dunia internet ramai dihiasi adu pendapat antara Indonesia-Malaysia, bahkan terkadang adu pendapat itu malah saling melecehkan. Orang Indonesia bilang bahwa Malaysia adalah Negara yang tidak berbudaya sehingga mengklaim budaya lain. Lalu Malaysia dituding sangat rakus dan diskriminatif, sehingga orang Indonesia memplesetkan Malaysia sebagai Malingsia. Seperti tak mau kalah orang Malaysia juga mengejek-ejek Indonesia sebagai Negara miskin bodoh yang menganggap masalah remeh seperti ini sebagai masalah besar sedangkan masalah seperti korupsi seperti dilupakan. Bahkan orang Malaysia menyebut Indonesia sebagai Indonlacur, karena banyak mengirim wanita ke banyak Negara sebagai pelacur.
Adu tuding ini malah semakin meruncingkan permasalahan yang ada sehingga terkadang menjadi keluar dari masalah inti. Namun pada hari selasa tanggal 13 november 2007 Malaysia mengakui secara defacto bahwa lagu rasa sayange sebagai lagu dari Indonesia. Pernyataan ini disampaikan oleh menteri kebudayaan malaysia Dr Rais Yatim pada pertemuan dengan mentri kebudayaan Indonesia Jero Wacik. Semoga saja pengakuan secara de facto Malaysia ini bisa mengakhiri problematika yang ada.
Tapi ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari pengklaiman Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia, bahwa sebagai bangsa yang memiliki banyak kebudayaan sepatutnya Indonesia menghargai kebudayaan yang dimiliki dan melestarikannya. Masyarakat kita juga cenderung terbelenggu pada kebanggaan pada budaya luar khususnya budaya barat seakan kita tak pernah tahu budaya sendiri, padahal orang barat justru sangat bangga akan budaya kita. Sebagai contoh adalah Angklung, di Malaysia, Belanda, dan Kanada Angklung mendapat respon yang sangat bagus sehingga anak-anak di Negara tersebut diajarkan bagaimana cara memainkan angklung. Dan yang paling mencengangkan bahwa di Malaysia musik Angklung sudah menjadi trend musik baru bagi para kaum mudanya. Kaum muda di Malaysia tidak canggung memainkan angklung di jalanan atau berbagai festival di Malaysia.
Bangsa Indonesia sangat marah besar ketika hasil karyanya diklaim orang lain dan dibajak orang lain. Sungguh sebuah ironi karena bangsa pembajak terbesar di dunia bisa marah ketika hasil karyanya dibajak. Apa mungkin ini balasan Tuhan kepada bangsa pembajak, sehingga Dia mentakdirkan orang asing membajak karya cipta bangsa Indonesia. Inilah yang dirasakan para pencipta karya dan pemilik hak cipta, sedih sekaligus marah besar. Mungkin ini penyebab bangsa asing tidak mau memihak Indonesia atas Klaim Malaysia terhadap lagu Rasa Sayange, karena mereka merasa sakit hati produknya banyak dibajak di Indonesia. Apa sih yang tidak dibajak di Indonesia, musik, film, buku, software, parfum, pakaian, semua dibajak dengan sukses. Saya tidak menyalahkan sepenuhnya pembajakan di negeri ini karena memang negeri ini belum mampu membeli produk asli yang mahal harganya. Tapi setidaknya kita juga bisa bersikap dingin dan tidak munafik dan lebih menitikberatkan pada persoalan yang lebih fundamental di negeri ini..
Lalu bagaimana mencitrakan Indonesia yang berbudaya? Sulit menjawabnya. Mungkin seharusnya yang menjadi pertanyaan adalah mengapa bangsa asing lebih mengenal Malaysia dibanding Indonesia atau lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Pertama adalah promosi pariwisata Indonesia di luar negeri sangat minim jika tidak boleh dikatakan nothing. Malaysia yang sangat gencar dengan branding “Trully Asia” nya tentu lebih dikenal di luar negeri. Alasan kedua adalah keengganan sebagian besar masyarakat Indonesia untuk melestarikan warisan budaya bangsanya sehingga wisatawan asing tidak tertarik untuk datang ke Indonesia, karena tidak ada hal yang unik. Sejauh yang saya tahu hanya di Bali lah orang dapat merasakan pengaruh kental budaya setempat tanpa mati dibunuh budaya asing. Dan alasan terakhir adalah kondisi keamanan dan sosial politik Indonesia yang tidak stabil sehingga wisatawan asing takut berkunjung ke Indonesia. Sebuah pekerjaan yang cukup berat dan konsistensi yang tinggi, tapi bisa dilakukan bila semua warga Indonesia konsen akan hal ini.

Tidak ada komentar: